Binance Dihadapkan pada Kritik Setelah Memecat Penyelidik yang Mengungkap Temuan Sanksi Iran

8 jam yang lalu
2 menit baca
3 tampilan

Bursa Kripto Binance Hadapi Pengawasan Ketat

Bursa kripto Binance kini menghadapi pengawasan yang semakin ketat setelah laporan mengenai pemecatan sejumlah penyelidik kepatuhan yang terlibat dalam penemuan transaksi terkait Iran. Perkembangan ini muncul di tengah perubahan struktural yang lebih luas dalam sistem kepatuhan bursa dan pernyataan publik dari mantan CEO, Changpeng Zhao.

Temuan Transaksi Terkait Iran

Menurut laporan dari Fortune, tim kepatuhan Binance menemukan lebih dari $1 miliar dalam transaksi yang berhubungan dengan entitas yang terhubung dengan Iran antara Maret 2024 dan Agustus 2025. Transaksi tersebut melibatkan stablecoin Tether di blockchain Tron. Setelah laporan internal tersebut disampaikan, setidaknya lima penyelidik dipecat mulai akhir 2025. Di antara staf yang dipecat terdapat individu dengan latar belakang penegakan hukum di Eropa dan Asia, beberapa di antaranya memegang posisi kepemimpinan dalam penyelidikan kejahatan keuangan dan kepatuhan sanksi.

Pemecatan dan Respon Binance

Alasan pasti di balik pemecatan ini belum dikonfirmasi secara publik. Fortune mengutip sumber anonim yang menyatakan bahwa setidaknya empat pejabat senior kepatuhan tambahan telah meninggalkan atau didorong untuk keluar dalam beberapa bulan terakhir. Binance menolak untuk memberikan komentar mengenai masalah personel individu. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan, “Sebagai kebijakan, kami tidak dapat mengomentari penyelidikan yang sedang berlangsung. Binance berkomitmen untuk mematuhi semua undang-undang sanksi yang berlaku.” Perusahaan juga menambahkan bahwa karyawan yang melanggar kebijakan perusahaan dapat dipecat dan bahwa tim kepatuhan mereka tetap aktif.

Pengawasan Pemerintah dan Tanggapan Zhao

Pemecatan ini terjadi di saat Binance masih berada di bawah pengawasan pemerintah setelah menyelesaikan masalah dengan otoritas AS pada tahun 2023. Changpeng Zhao, yang lebih dikenal sebagai CZ, menanggapi laporan tersebut secara publik. Dia mengungkapkan bahwa dia tidak mengetahui detailnya tetapi mempertanyakan narasi yang disajikan.

“Saya tidak menjalankan Binance lagi, tetapi sebagai mantan CEO, saya tahu mereka menjalankan SETIAP transaksi melalui beberapa alat AML pihak ketiga,”

tulis Zhao di media sosial. Dia juga mencatat bahwa alat AML yang sama digunakan oleh lembaga penegak hukum. Zhao berargumen bahwa sumber anonim dapat membentuk narasi negatif tanpa bukti yang jelas dan menyarankan bahwa jika pelanggaran terjadi, sistem pemantauan eksternal kemungkinan besar akan mendeteksinya.

Komitmen Kepatuhan dan Perubahan Manajemen

Hingga saat ini, Zhao tetap sebagai pemegang saham mayoritas BNB, mengendalikan sekitar 94 juta token BNB yang mewakili sekitar 64% dari pasokan yang beredar. Pada tahun 2023, Binance mengaku bersalah atas pelanggaran anti-pencucian uang dan sanksi, serta setuju untuk membayar denda sebesar $4,3 miliar. Zhao juga mengaku bersalah karena gagal menerapkan pengawasan yang memadai dan menjalani hukuman empat bulan. Dia mengundurkan diri sebagai CEO, dan Binance menunjuk Richard Teng sebagai penggantinya. Setelah penyelesaian tahun 2023, Binance berkomitmen untuk meningkatkan kontrol kepatuhan dan memperluas pengawasan internalnya. Pada November 2024, bursa mengumumkan rencana untuk meningkatkan staf kepatuhan sebesar 34% menjadi 645 karyawan. Lowongan pekerjaan menunjukkan bahwa perusahaan terus merekrut untuk posisi kepatuhan.

Insiden Keamanan dan Tindakan Hukum

Pemecatan yang dilaporkan juga terjadi saat Binance mencari pengganti untuk Chief Compliance Officer Noah Perlman, mantan jaksa AS. Sumber yang akrab dengan masalah tersebut menyatakan bahwa Perlman berencana untuk bertransisi keluar akhir tahun ini, dan kepergiannya tidak terkait dengan pemecatan penyelidik. Waktu peristiwa ini bertepatan dengan perkembangan politik di Amerika Serikat. Seperti yang dilaporkan Coinpaper, Presiden Donald Trump memberikan pengampunan kepada Zhao pada Oktober 2025 terkait dengan vonis sebelumnya. Binance juga telah melibatkan pelobi di Washington dan mendukung inisiatif kripto yang terkait dengan World Liberty Financial.

Terpisah dari masalah kepatuhan, kepala Binance Prancis, David Princay, menjadi target percobaan perampokan di rumah pada 12 Februari. Menurut laporan polisi setempat, tiga pria bertopeng memasuki sebuah gedung tempat tinggal di Val-de-Marne untuk mencari eksekutif tersebut. Mereka gagal menemukan Princay dan pergi dengan dua ponsel. Pihak berwenang melaporkan bahwa kelompok yang sama kemudian mencoba melakukan perampokan kedua di Vaucresson tetapi menargetkan alamat yang salah. Polisi melacak para tersangka menggunakan rekaman pengawasan dan menangkap mereka di stasiun Lyon Perrache. Yi He, salah satu pendiri Binance, mengonfirmasi bahwa karyawan dan keluarganya aman dan bahwa perusahaan bekerja sama dengan penegak hukum.