Pengumuman Tuntutan oleh Departemen Kehakiman AS
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka telah mengajukan tuntutan terhadap 10 individu yang terlibat dengan empat perusahaan “market maker”—Gotbit, Vortex, Antier, dan Contrarian. Mereka dituduh memanipulasi harga aset digital melalui skema yang dikenal sebagai “pump-and-dump”.
Tuduhan dan Konsekuensi
Jaksa federal menuduh para terdakwa berkonspirasi untuk secara artifisial meningkatkan volume perdagangan dan harga cryptocurrency sebelum menjualnya kepada “investor yang tidak menyadari” dengan nilai yang telah dibesar-besarkan. “Skema yang disebut pump-and-dump ini telah menyebabkan kerugian bagi investor di Amerika Serikat dan di negara lain,” kata jaksa, menambahkan bahwa pihak berwenang telah menyita lebih dari $1 juta dalam bentuk cryptocurrency.
Proses Hukum dan Ekstradisi
Tiga terdakwa, termasuk eksekutif senior, diekstradisi dari Singapura dan telah muncul di hadapan Hakim Pengadilan Distrik AS, Araceli Martínez-Olguín, di Oakland. Sementara itu, dua terdakwa lainnya telah mengajukan pengakuan bersalah dan menerima hukuman.
Perluasan Jangkauan Pihak Berwenang
Kasus ini menunjukkan bagaimana pihak berwenang AS memperluas jangkauan mereka terhadap pelaku luar negeri yang diduga aktivitasnya mempengaruhi pasar cryptocurrency di Amerika, meskipun para terdakwa beroperasi sepenuhnya di luar negeri. Tuntutan ini merupakan hasil dari operasi penyamaran FBI yang menggunakan token yang dibuat oleh biro untuk mengungkap layanan manipulasi pasar yang diduga—teknik yang sama digunakan untuk mendasari tuntutan terhadap 18 individu dan entitas yang dituduh melakukan manipulasi pasar pada bulan Oktober 2024.
Kesepakatan Sebelumnya dan Tindakan Terbaru
Pada bulan Maret tahun lalu, pendiri Gotbit, Aleksei Andriunin, mencapai kesepakatan pengakuan dengan pihak berwenang AS terkait tuduhan manipulasi pasar, menyerahkan $23 juta dalam aset cryptocurrency. Tindakan terbaru oleh DOJ juga menargetkan pengembang alat privasi dan individu yang diduga menyalahgunakan dana bantuan COVID untuk membeli aset digital.