IMF Memperingatkan Lonjakan Stablecoin di Nigeria Uji Sistem Moneter

3 jam yang lalu
2 menit baca
4 tampilan

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Penggunaan Stablecoin di Nigeria

Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan bahwa meningkatnya penggunaan stablecoin di Nigeria telah menjadi saluran pembayaran lintas batas utama bagi rumah tangga dan usaha kecil. Dalam laporan tersebut, IMF mencatat bahwa pengguna beralih ke token yang terikat pada dolar AS untuk mengirimkan remitansi, membayar pemasok, dan menyimpan nilai di tengah tekanan terhadap mata uang lokal. “Ini juga menguji batasan kerangka moneter dan regulasi yang ada,” ujar IMF.

Aliran Aset Kripto di Nigeria

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Nigeria menerima sekitar $59 miliar dalam aliran aset kripto antara Juli 2023 dan Juni 2024, dan negara ini menyumbang sekitar 60% dari aliran stablecoin di Afrika sub-Sahara sejak 2019. Stablecoin semakin populer karena memungkinkan pengguna untuk memindahkan uang melalui smartphone, dompet digital, dan bursa kripto. IMF mencatat bahwa pengguna dapat menerima remitansi atau melakukan pembayaran lintas batas dalam hitungan menit, seringkali dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan saluran tradisional.

Manfaat dan Risiko Penggunaan Stablecoin

Nigeria telah menjadi pusat utama untuk aliran stablecoin di Afrika sub-Sahara. Meskipun skala penggunaan ini membawa manfaat, hal ini juga menciptakan risiko. Analisis IMF mengidentifikasi empat prioritas: menjaga stabilitas moneter, memperkuat pengawasan, meningkatkan data, dan memperbarui infrastruktur pembayaran. Kasus pembayaran di Afrika sangat jelas, di mana biaya transfer tetap tinggi. IMF mengutip data dari Bank Dunia yang menunjukkan bahwa mengirim $200 ke Afrika sub-Sahara memerlukan biaya sekitar 9% dari nilai transaksi, dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 6%. Bagi banyak usaha kecil, penyelesaian dolar yang lebih cepat dapat membantu perdagangan luar negeri dan pembayaran kepada pemasok.

Namun, IMF juga menyatakan bahwa fitur-fitur yang mendukung penggunaan stablecoin dapat menciptakan risiko kebijakan. Karena sebagian besar stablecoin terikat pada dolar AS, penggunaan yang luas dapat mengurangi permintaan terhadap naira dan melemahkan pengaruh kebijakan moneter domestik. “Penggunaan yang luas dapat menyerupai bentuk digital dari dollarization,” kata IMF.

Regulasi dan Pengawasan Kripto di Nigeria

Selain itu, aktivitas yang berpindah dari bank ke dompet dan bursa dapat menyulitkan pemantauan. Beberapa platform juga dapat meningkatkan risiko terkait pencucian uang dan keuangan ilegal lainnya, terutama di daerah di mana pemeriksaan identitas masih lemah.

Laporan tersebut menegaskan bahwa risiko-risiko ini tidak hanya terjadi di Nigeria, tetapi skala adopsi lokal membuatnya lebih terlihat. Inflasi, depresiasi naira, dan akses terbatas ke valuta asing resmi pada 2023 dan 2024 mendorong lebih banyak rumah tangga dan perusahaan untuk beralih ke aset yang terhubung dengan dolar. IMF menyatakan bahwa upaya untuk menekan penggunaan stablecoin mungkin hanya berhasil sebagian. Mereka menyerukan respons kebijakan yang praktis, yang memungkinkan inovasi sambil tetap mengelola risiko. Prioritas mereka mencakup kebijakan moneter yang lebih kuat, aturan yang lebih jelas untuk penerbit stablecoin, data yang lebih baik, dan peningkatan sistem pembayaran.

Langkah Menuju Regulasi yang Lebih Ketat

Nigeria sudah mulai bergerak menuju pengawasan kripto yang lebih formal. Para pembuat undang-undang baru-baru ini memajukan RUU Regulasi Penyedia Layanan Aset Virtual 2026, yang akan mengharuskan bursa kripto dan operator lainnya untuk mendapatkan lisensi dan mematuhi aturan kepatuhan. RUU tersebut kini sedang dalam tinjauan komite, sehingga bentuk akhirnya masih dapat berubah. Data pasar terkait juga menunjukkan mengapa isu ini penting. Ekonomi kripto di Afrika telah tumbuh dengan pesat, dengan stablecoin berperan penting dalam perdagangan lintas batas, tabungan, dan pembayaran. Nigeria tetap menjadi salah satu pasar terkemuka di kawasan ini, didorong oleh tekanan mata uang, permintaan remitansi, dan pengguna yang mengutamakan transaksi melalui perangkat mobile.

Seiring dengan perkembangan ini, Nigeria telah mengambil langkah-langkah menuju regulasi yang lebih ketat. Seperti yang dilaporkan oleh crypto.news, para pembuat undang-undang baru-baru ini memajukan RUU aset virtual yang akan mengharuskan bursa dan perusahaan kripto lainnya untuk mendapatkan lisensi, sementara bank sentral telah memilih KuCoin dan lima perusahaan lokal untuk pilot proyek aset virtual yang diawasi. Selain itu, otoritas juga telah mulai menghubungkan transaksi kripto dengan catatan identifikasi pajak, menunjukkan bahwa Nigeria bergerak dari peringatan umum menuju pemantauan langsung dan pengawasan formal.