Lonjakan Drastis Serangan Wrench di Paruh Pertama 2026: Prancis Menjadi Pusat Penculikan Crypto

2 jam yang lalu
Waktu baca 1 menit
1 tampilan

Serangan Penculikan Kekerasan di Sektor Cryptocurrency

Serangan penculikan kekerasan telah muncul sebagai ancaman serius bagi para pelaku di sektor cryptocurrency, dengan lebih dari 50 serangan wrench tercatat di paruh pertama tahun 2026. Istilah “serangan wrench” diambil dari webcomic populer xkcd, yang menggambarkan situasi di mana seorang penjahat menggunakan kekerasan, intimidasi, atau penahanan untuk memaksa pemegang cryptocurrency mengungkapkan kunci privat atau kata sandi mereka.

Laporan dari CertiK

Perusahaan keamanan blockchain, CertiK, melaporkan bahwa 52 serangan yang terjadi dalam enam bulan pertama tahun ini menunjukkan peningkatan sebesar 33,3% dibandingkan dengan paruh pertama tahun 2025. Paparan finansial yang terkait dengan serangan-serangan ini melonjak dari sekitar $10,5 juta di H1 2025 menjadi $124,18 juta pada tahun ini. Angka-angka tersebut mencakup tuntutan tebusan, dana yang ditransfer oleh korban, dan aset yang dibekukan oleh pihak berwenang, menurut CertiK.

Pusat Serangan di Prancis

Prancis tetap menjadi pusat serangan wrench, mencatat 33 dari 52 insiden yang terjadi hingga saat ini. CertiK mengaitkan lonjakan serangan di negara Eropa ini dengan berbagai faktor. “Prancis memiliki ekosistem cryptocurrency yang besar dan terlihat, termasuk bursa, pendiri, investor, penyedia layanan, dan acara industri yang sering diadakan. Di sisi lain, negara ini juga mengalami serangkaian insiden kebocoran data besar yang mempengaruhi organisasi di sektor swasta dan publik. Contoh terbaru termasuk kompromi data di France Travail dan insiden keamanan yang diungkap oleh Agence Nationale des Titres Sécurisés (ANTS). Insiden-insiden semacam ini meningkatkan ketersediaan informasi pribadi yang dapat digabungkan dengan intelijen sumber terbuka dan data blockchain yang tersedia untuk umum, sehingga memudahkan identifikasi target potensial.”

Organisasi Penculikan

Penculikan ini sering kali diorganisir oleh penyelenggara dari luar negeri yang berkoordinasi dengan perekrut di Prancis, menurut laporan Februari dari Layanan Informasi, Intelijen, dan Analisis Strategis Kejahatan Terorganisir Polisi Judisial (SIRASCO). Para perekrut ini menghubungkan penyelenggara dengan individu muda yang memiliki catatan kriminal, yang melakukan intimidasi secara online dan serangan fisik. Korban penculikan biasanya adalah pria berusia antara 20 hingga 35 tahun yang terlibat dalam aset digital sebagai investor, pengusaha, atau influencer.